Sabtu, 02 Juni 2012

Syukur


SYUKUR
Makalah
Disusun guna memenuhi tugas
Mata kuliah: Hadis-Hadis Sufistik
Dosen pengampu: H. Hasyim Muhammad, M. Ag
Disusun oleh:
Hafizh Rahman                       (104411018)


FAKULTAS USHULUDDIN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011


SYUKUR

I.       PENDAHULUAN
Dalam ajaran tasawuf kita telah tahu dan mempelajari ajarannya dimulai dengan bagian-bagian tasawuf itu wara, zuhud, sabar, sampai dengan mahabbah. Pada kehidupan kita sehari-hari telah mengalami itu dan merasakan ajaran tersebut. Dalam hal ini kita mau menjelaskan salah satu dalam ajaran tasawuf itu adalah syukur. Kita tahu apa itu syukur? Syukur merupakan menerima apa adanya yang telah dianugrahkan atau yang diberikan oleh Allah SWT yang diwujudkan dalam bentuk ucapan dan perbuatan manusia. Syukur juga bisa diartikan dengan menghargai nikmat dari Allah itu dalam bentuk benda hidup maupun mati. Syukur banyak sekali dijelaskan dalam Al Quran dan Hadis. Syukur diatur dalam firman Allah surat ibrahim yang berbunyi:
øŒÎ)ur šc©Œr's? öNä3š/u ûÈõs9 óOè?öx6x© öNä3¯RyƒÎV{ ( ûÈõs9ur ÷LänöxÿŸ2 ¨bÎ) Î1#xtã ÓƒÏt±s9 ÇÐÈ  
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
Menurut Al Raghib tentang syukur adalah:
 الشكرتصور النعمة واطهارها
“Bersyukur adalah merenungi dan mengungkapkan nikmat.”
Maka dalam hal ini kita disuruh kepada Allah untuk selalu bersyukur dan bersyukur dalam hal apapun itu yang terjadi pada kehidupan kita. Dalam hal ini kita merasa tertarik untuk membuat makalah Hadis-hadis sufistik. Maka dengan ini kita mengambil judul tentang “Syukur”.
II.    Rumusan Masalah
A.    Pengertian Syukur
B.     Hadis-Hadis Nabi tentang Syukur
C.     Penjelasan


III. Pembahasan
A.    Pengertian Syukur
Arti syukur adalah menghargai ni’mah yang diberikan oleh sang pemberi. Pengaruh penghargaan itu seperti itu akan terlihat di dalam hati sampai dengan gerakan tubuh. Di dalam hati pengaruhnya adalah ketundukan sampai dengan ketakutan. Pengaruhnya dilidah adalah ungkapan pujian dan keagungan, Pengaruhnya pada anggota tubuh adalah ketaatan dan penggunaan anggota-anggota tubuh untuk mendapatkan keridhaan Sang Pemberi, dsb.
Al Raghib Berkata:
 الشكرتصور النعمة واطهارها
“Bersyukur adalah merenungi dan mengungkapkan nikmat.”
Kata syukur adalah pergeseran dari kata kasyr yang berarti kasyf dan lawan dari kata kufr yang berarti melainkan dan menutupi ni’mah. Dabbah syukur adalah hewan yang menghargai tuannya. Disebutkan juga bahwa akar kata syukr adalah ‘ainun syukra. Syukra disini artinya adalah mumtali’ah. Jadi arti syukur adalah memenuhi diri dengan memuji-muji Sang Pemberi.
Syukur ada tiga macam:
a.       Syukur hati dengan merenungi anugrah.
b.      Syukur lidah dengan memuji Sang Pemberi, dan
c.       Syukur anggota tubuh dengan memerhatikan ni’mah sebagaimana ni’mah itu patut diperhatikan.
Peneliti irfan yang unggul, khawajah’Abdullah Anshari berkata, syukr adalah sebutan lain untuk pengetahuan (mari’fat) dan nikmat, karena syukr merupakan sarana untuk mengetahui Sang Pemberi nikmat. Pensyarah karyanta yang kawakan berkata: “merenungkan datangnya ni’mah dari Mun’im dan mengetahui bahwa ni’mah itu berasal dari-Nya adalah syukur. Diriwayatkan bahwa Nabi Daud a.s. berkata, “wahai tuhan! Bagaimana aku dapat bersyukur kepada-Mu, karena syukurku juga merupakan anugrah-Mu yang perlu aku syukuri!” Allah berfirman kepadanya, “Wahai Daud, apabila engakau tahu bahwa setiap ni’mah yang engkau nikmati itu berasal dari-Ku, berarti engkau telah bersyukur kepada-Ku.”[1]
B.     Hadis-Hadis Nabi tentang Syukur
 من قال سبحان الله فله عشر حسنات ومن قال لا اله الا الله فله عشرون حسنة ومن قال احمد لله فله ثلا ثون حسنة
Artinya: “Barang siapa yang membaca “Subhana’llaah, maka baginya sepuluh dua puluh kebaikan. Dan barang siapa membaca “Laa illaha illal-lah, maka baginya dua puluh kebaikan. Dan barang siapa membaca “Alhamdu li’llah, maka baginya tiga puluh kebaikan.”
 افضل الد كرلا اله الا الله و افضل الد عاء الحمد الله
Artinya: “Dzikir yang lebih utama, ialah: “Laa ilaaha I’lla’llaah” dan doa yang lebih utama, ialah: “Alhamdu li’llaah”.
 ليس شئ من الاد كار ما يضا عف الحمد لله
Artinya: “Tiadalah sesuatu dari dzikir yang berlipat ganda pahalanya; apa yang berlipat ganda oleh “al-hamdu li’llah.[2]
C.     Penjelas
Janganlah anda menyangka, bahwa kebaikan-kebaikan ini dengan berbetulan menggerak-gerakan lidah dengan kalimat-kalimat itu, tanpa berhasil pengertian-pengertiannya dalam hati. Maka “Subhaana’llah” itu kalimat yang menunjukan taqdis (pengkudusan). “Laa ilaaha illaa’llah” itu kalimat yang menunjukan kepada mengenali nikmat dari Yang Maha Esa, Yang Maha Besar. Kebaikan-kebaikan itu adalah dengan kebetulan ma’rifat-ma’rifat ini yang termasuk sebahagian dari pintu-pintu iman dan jaqin. Dan ketahuilah bahwa kesempurnaan syirik pada segala perbuatan. Maka siapa yang dianugerahkan kepadanya oleh seseorang raja dengan sesuatu, kalau dilihatnya bagi menteri atau wakil raja tersebut turut campur pada memudahkan yang demikian dan menyampaikannya kepadanya, maka orang tersebut mempersekutukan dengan raja pada nikmat itu. Lalu ia tidak melihat nikmat tersebut, maka terbagi-bagilah kegembiraannya kepada dua orang itu. Dia tak mengesakan pada hak raja. Dia benar tidak menutup matanya dari itu terhadap raja. Dan kesempurna kesyukuran raja yang dituliskan dengan penanya. Dia tak bergembira dan tak berterima kasih dengan kertas dan pena. Karena ia tidak mengakui pena dan kertas itu ikut campur dari segi keduanya. Akan tetapi, dari segi bahwa kertas dan pena itu adalah dijadikan dibawah kekuasaan raja. kadang-kadang orang itu tahu, bahwa wakil raja yang menyampaikan dan memegang gudang juga adalah diperlukan dari pihak raja pada menyampaikannya. Apabila ia mengetahui yang demikian, niscaya pandangannya kepada pemegang gudang yang menyampaikan itu, adalah seperti pandangannya kepada pena dan kertas. Maka tidaklah yang demikian itu mempusakakan syirik pada tauhidnya dari menyandarkan nikmat kepada raja.[3]
Demikian juga, orang yang mengenal Allah ta’ala dan mengenal perbuatan-NYA, niscaya ia tahu bahwa matahari sampai bintang-bintang itu dijadikan dengan perintah-NYA. Karena Allah ta’ala dengan tangannya telah menguasakan iradah-NYA atas orang itu. Ia mengerjakan dan mencurahkan untuk selalu kebajikannyadan didunia dan diakhirat. Dan sesudah Allah ta’ala menjadikan baginya kepercayaan ini, niscaya ia tidak memperoleh jalan kepada meninggalkan pemberian itu. Kalau engkau sudah mengetahui senua pekerjaan seperti yang demikian maka engkau sesungguhnya telah mengenal Allah ta’ala. Engkau mengenali perbuatannya engkau adalah orang yang bertauhid. Dan engkau sanggup bersyukur kepada-Nya dengan semata-mata ma’rifat itu adalah orang yang bersyukur kepada tuhan. Dan karena itu nabi Musa a.s. berkata: “Wahai Tuhanku! Engkau telah berbuat dan enkau telah berbuat, maka bagaimanakah kesyukuran kepada engkau?.”[4]
Maka Allah berfirman: “Ketahuillah bahwa semua yang demikian itu daripada-KU. Maka mengenalinya itu adalah syukur.” Kalau engkau dimasuki oleh keraguan, maka tidaklah engaku itu berma’rifat. Tidak dengan nikmat dan tidak dengan yang memberi nikmat. Maka engkau tidak gembira dengan dengan yang memberi nikmat yang Maha Esa aja. Maka dengan kurangnya ma’rifat akan mengurangkan keadaan kesenangan. Dan dengan kurangnya kesenangan engkau, niscaya akan mengurangkan amalan engkau.
Keadaan yang dipetik dari pokok ma’rifat yaitu kegembiraan dengan yang memberi nikmat serta dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri. Sesungguhnya yang demikian syukur, ia mengandung syarat syukur. Dan syaratnya ialah bahwa kesenangan engkau itu adalah dengan yang memberi nikmat tidak dengan nikmat dan tidak dengan penikmatan. Adapun tingkatan syukur itu mempunyai tiga tingkatan:
v  Tidak masuk padanya sekali-kali arti syukur. Kegembiraan adalah dengan sesuatu, tidak dengan yang memberikan. Dan ini adalah keadaan setiap orang yang bergembira dengan nikmat dari segi, bahwa nikmat itu enak dan bersesuaian bagi maksudnya. Maka itu jauh dari syukur.
v  Masuk dalam arti syukur dari segi bahwaia bergembira dengan yang menganugrahkan nikmat. Tetapi dari segi mengetahui kesungguhannya yang bergerak-gerakan kepada penikmatan pada masa mendatang. Ini keadaan orang-orang soleh yang beribadah kepada Allah dan mensyukurinya, karena takut dengan siksaan dan mengharapkan pahala-Nya.
v  Kegembiraan hamba dengan nikmat Allah Ta’ala, supaya selalu dekat dengan Allah, bertempat disisi-Nya dan selalu memandang kepada wajah-Nya.
Menurut Asy-Syibli r.a. berkata: “Syukur itu melihat yang memberi nikmat, bukan melihat nikmatnya.” Menurut Abu Ishak Ibrahim bin Ahmad Al-Khawwash r.a. berkata: “Syukurnya orang awam itu atas makanan sampai dengan minuman. Dan syukurnya orang khusus ialah atas segala yang datang kepada hati. Maka sesungguhnya hati itu tidak merasa enak dalam keadaan sehat selain dengan mengingat Allah Ta’ala mengenali-Nya dan menemui-Nya. Jadi inilah syarat kegembiraan dengan nikmat Allah. Kalau tidak ada unta maka kambing. Dan berapa banyak perbedaan antara orang yang menghendaki Allah untuk memberi nikmat kepadanya dan orang yang menghendaki nikmat Allah, supaya dengan nikmat itu, ia sampai kepada Allah.[5]
Kesyukuran dengan lisan adalah untuk melahirkan rela kepada Allah dan itulah yang disuruh. Allah SWT berfirman:
$yJ¯RÎ) šcrßç7÷ès? `ÏB Èbrߊ «!$# $YZ»rO÷rr& šcqà)è=øƒrBur %¸3øùÎ) 4 žcÎ) tûïÏ%©!$# šcrßç7÷ès? `ÏB Èbrߊ «!$# Ÿw šcqä3Î=ôJtƒ öNä3s9 $]%øÍ (#qäótGö/$$sù yZÏã «!$# šXøÎh9$# çnrßç6ôã$#ur (#ráä3ô©$#ur ¼ã&s!
Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; Maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. hanya kepada- Nyalah kamu akan dikembalikan.[6]
Maka syukur dengan lisan itu termasuk dalam jumlah syukur. Diriwayatkan bahwa suatu utusan datang kepada Umar bin Abdul Aziz r.a lalu bangun berdiri seorang pemuda untuk berbicara. Maka umar r.a berkata: “Dahulukanlah untuk berbicara yang lebih tua lalu yang lebih tua. Pemuda tadi menjawab: “Wahai Amirul-mu’minin! Kalau urusan itu dengan umur, maka sesungguhnya dalam kalangan kaum muslimin ada orang lebih tua umurya dari engkau.” Lalu umar r.a menjawab: “Berbicaralah!.”
Maka pemuda tersebut berbicara: “Tidaklah kami ini utusan kegemaran dan tidak pula utusam ketakutan. Adapun kegemaraan, maka telah disampaikan kepada kami oleh keutamaan engkau. Dan adapun ketakutan, maka tealh diamankan kami daripadanya, oleh keadilan engkau. Dan sesungguhnya kami ini adalah utusan kesyukuran. Kami datang kepada engkau untuk kami bersyukur kepada engkau dengan lisan dan kami akan pergi.” Maka inilah pokok-pokok pengertian syukur yang meliputu kumpulan hakikatnya!.
Menurut perkataan Hamdun Al Qashshar bahwa syukur bikmat itu ialah engkau melihat diri engkau pada kesyukuran itu sebagai anak kecil adalah suatu isyarat bahwa arti ma’rifat itu termasuk dalam pengertian syukur. Dan perkataan Al Junaid Al Baghdadi r.a bahwa syukur ialah engkau meliaht diri engkau berhak untuk nikmat itu adalah isyarat kepada salah satu dari hal-ihwal hati pada khususnya.
Dengan demikian nama syukur pada ciptaan lisan untuk melengkapi semua pengertian atau mencapai kebahagiannya didunia dan diakirat. Kiranya Allah mencurahkan taufiq dengan Rahmat-Nya untuk kita yang selalu bersyukur dijalan Allah SWT.[7]


IV. Kesimpulan
Arti syukur adalah menghargai ni’mah yang diberikan oleh sang pemberi. Pengaruh penghargaan itu seperti itu akan terlihat di dalam hati sampai dengan gerakan tubuh. Syukur ada tiga macam:
a)      Syukur hati dengan merenungi anugrah.
b)      Syukur lidah dengan memuji Sang Pemberi, dan
c)      Syukur anggota tubuh dengan memerhatikan ni’mah sebagaimana ni’mah itu patut diperhatikan.
Hadis-hadis nabi tentang syukur:
1.      “Barang siapa yang membaca “Subhana’llaah, maka baginya sepuluh dua puluh kebaikan. Dan barang siapa membaca “Laa illaha illal-lah, maka baginya dua puluh kebaikan. Dan barang siapa membaca “Alhamdu li’llah, maka baginya tiga puluh kebaikan.”
2.      “Dzikir yang lebih utama, ialah: “Laa ilaaha I’lla’llaah” dan doa yang lebih utama, ialah: “Alhamdu li’llaah”.
3.      “Tiadalah sesuatu dari dzikir yang berlipat ganda pahalanya; apa yang berlipat ganda oleh “al-hamdu li’llah.
Janganlah anda menyangka, bahwa kebaikan-kebaikan ini dengan berbetulan menggerak-gerakan lidah dengan kalimat-kalimat itu, tanpa berhasil pengertian-pengertiannya dalam hati. Maka “Subhaana’llah” itu kalimat yang menunjukan taqdis. “Laa ilaaha illaa’llah” itu kalimat yang menunjukan kepada mengenali nikmat dari Yang Maha Esa dan Besar. Kebaikan-kebaikan itu adalah dengan kebetulan ma’rifat-ma’rifat ini yang termasuk sebahagian dari pintu-pintu iman dan jaqin. Oleh karena itu, syukur selalu membahagiakan hambanya didunia dan diakhirat. Kiranya Allah mencurahkan taufiq dan Rahmat-Nya untuk kita yang selalu bersyukur dijalan Allah SWT.
V.    Penutup
Demikian makalah yang saya susun, tentunya masih banyak kekurangan dan kesalahan untuk itu kritik dan saran yang konstruktif sangat saya harapkan guna perbaikan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita senua, amin.


Daftar Pustaka
Al Quran Terjemah, 2004, Yogyakarta: Departemen Agama
Al Ghazali, Imam, 1998, Ihya Ulumuddin, Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD.
Khomeini, Imam, 2006, 40 Hadis, Bandung: Mizan.
Muhammad, Ahsin, 1990, Risalah al Qusairi, Bandung: Penerbit Pustaka


[1] Imam Khomeini, 2006, 40 Hadis, Bandung: Mizan, , hal: 415-417
[2] Imam Al Ghazali, 1998, Ihya Ulumuddin, Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD, hal: 1156
[3] Imam Al Ghazali, 1998, Ibid, hal: 1158
[4] Ahsin Muhammad, 1990, Risalah al Qusairi, Bandung: Penerbit Pustaka, hal: 136
[5] Imam Al Ghazali, 1998, Ibid, hal: 1161
[6] Al Quran Terjemah, 2004, Yogyakarta: Departemen Agama
[7] Imam Al Ghazali, 1998, Ibid, hal: 1165

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar